PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA’ DAN BAGAIMANA MENGIMPLEMENTASIKANNYA DI DALAM KELAS, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT SEKITAR SEKOLAH.
3.2.a. 9 KONEKSI ANTAR MATERI
PEMIMPIN
PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA’ DAN BAGAIMANA MENGIMPLEMENTASIKANNYA DI
DALAM KELAS, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT SEKITAR SEKOLAH.
OLEH
BAIQ HERLINA, S. Pd
CGP_ANGKATAN 2_SMAN 2 GERUNG_LOMBOK BARAT
Salam bahagia sahabat bloger
dimanapun berada.
Tidak terasa kami sudah memasuki
bulan kelima dalam Program Pendidikan Guru Penggerak. Materi kami kali ini pada Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yaitu
modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Pembelajaran. Modul ini
mengajak kita untuk membayangkan menjadi pemimpin yang dapat menggerakkan
komunitas dan lingkungan sekolah. Pemimpin penggerakyang dapat memanfaatkan
potensi ekosistem untuk berdayaguna, bukan saja terhadap sekolah tetapi juga
terhadap masyarakat sekitar.
Mengingat pengtingnya materi ini terutama bagi guru sebagai
pemimpin pembelajaran, maka saya akan berbagi sedikit tentang gambaran
bagaimana sich Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya.
A.
PEMIMPIN
PEMBELAJAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Sebagai seorang pemimpin baik
dikelas maupun di sekolah, kita harus mampu mengidentifikasi dan mengelola
segala sumber daya / asset yang dimiliki oleh sekolah untuk dapat dijadikan
sebagai keunggulan sekolah dalam rangka mendukung perwujudan visi dan misi sekolah.
Sekolah adalah sebuah bentuk
interaksi antara faktor biotik dan
abiotik. Faktor Biotik terdiri
atas murid, kepala sekolah, staf /tenaga
kependidikan, pengawas sekolah, orang tua murid dan masyarakat sekitar sekolah.
Sedangkan faktor abiotik terdiri atas keuangan serta sarana dan prasarana. Kedua unsur ini saling
berinteraksi satu sama lainnya sehingga
mampu menciptakan hubungan yang
selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling mempengaruhi dan membutuhkan
keterlibatan satu sama
lainnya, sedangkan faktor-faktor abiotik akan menunjang keberhasilan
proses pembelajaran di sekolah.
Seorang pemimpin wajib membangun
ekosistem yang dapat merangsang kreativitas untuk menunjang keberhasilan tujuan
pendidikan. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada cara
pandang dalam melihat ekosistemnya: apakah sebagai kekuatan
atau sebagai kekurangan. Pemimpin yang
memandang semua yang dimiliki adalah
suatu kekuatan, tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada
pemanfaatan aset atau sumber daya yang
dimiliki.
Dengan kata lain, pemimpin harus bisa memberdayakan sumber daya yang ada
di sekolahnya untuk mengembangkan dan
memajukan sekolah sehingga dapat mencapai visi dan misi sekolahnya.
Pendekatan Berbasis Aset ( Asset
Based Thingking) adalah konsep yang
dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer
yang menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Kita diajak untuk
memusatkan perhatian pada apa yang
bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang
positif. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan dan potensi yang
dimiliki oleh komunitas.
Berbeda dengan pendekatan berbasis
kekurangan/masalah (Deficit-Based Thingking) yang memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang,
dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya dipandang dari sisi negatif
sehingga buta terhadap peluang yang ada di sekitar.
Berikut
perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis
asset.
Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sebaiknya sekolah lebih menekankan pada pendekatan berbasis asset. Selanjutnya pendekatan ini lebih dikenal dengan Pendekatan Komunitas berbasis Aset (PKBA).
Pendekatan PKBA menekankan
danmendorong komunitas untuk
dapat memberdayakan asset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan
dari asset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Pendekatan berbasis aset menekankan kepada kemandirian
dari komunitas tersebut untuk dapat
menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan
potensi yang ada dalam diri mereka
sendiri, sehingga hasil yang diharapkan
bisa berkelanjutan. Pendekatan pengembangan komunitas berbasis
asset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini komunitas
sibuk mencari pemecahan pada masalah yang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan
pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah
komunitas atau disebut community-driven development.
Menurut Green dan Haines (2002)
dalam bukunya yang berjudul Asset Building and Community Development, ada 7
aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:
1. Modal
Manusia,
2. Modal
Sosial,
3. Modal Fisik,
4. Modal
Lingkungan/Alam,
5. Modal Finansial,
6. Modal
Politik, serta
7. Modal
Agama dan Budaya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa pemimpin dalam pengelolaan sumber daya merupakan sebuah
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengelola dan
memanfaatkan berbagai aset-aset yang dimiliki oleh sekolahnya dalam rangka
mewujudkan visi dan misi sekolah untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan di
sekolah dan mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Untuk dapat mengimplementasikan
modul pemimpin dalam pengelolaan sumber daya di kelas, sekolah, dan masyarakat
sekitar sekolah, maka seorang pemimpin harus mampu bersinergi dengan semua
pihak yang ada di sekolah baik dewan guru, staff, siswa, orang tua siswa, dan
juga masyarakat sekitar sekolah untuk dapat secara bersama-sama
menginventarisir/memetakan segala sumber daya (aset) yang dimiliki sekolah dan
menjadikan segala aset tersebut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah
untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah.
Salah satu aset yang paling utama
yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia. Jika modal manusia ini mampu
dimanfaatkan dan dikelola dengan baik maka mutu pendidikan di sekolah akan
meningkat. Seorang pemimpin sekolah harus mampu menggerakkan guru-guru yang ada
di sekolah untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif,
menyenangkan, dan juga pembelajaran berdiferensiasi, sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan oleh guru lebih berpihak pada murid. Dengan sekolah mampu
mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maka segala minat, bakat, dan
potensi yang dimiliki oleh murid akan dapat berkembang dengan maksimal.
B.
IMPLEMENTASI
PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI DALAM KELAS, SEKOLAH DAN MASYARAKAT SEKITAR SEKOLAH
Lingkungan
kelas dan sekolah adalah miniatur dari
tatanan masyarakat di suatu daerah, karena itu pendekatan berbasis aset dalam rangka pengembangan komunitas atau
masyarakat bisa diterapkan di dalam
kelas dan lingkungan sekolah. Tujuannya adalah untuk mengupayakan pelayanan
terbaik kepada murid.
Masyarakat yang signifikan hanya
akan terjadi jika diupayakan oleh warga lokal masyarakat itu sendiri.
Apabila diaplikasikan ke sekolah, perubahan akan terjadi jika diinginkan oleh
seluruh warga sekolah. Warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang
sudah mereka mulai. Dengan demikian, membangun dan membina
hubungan antar warga sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah
yang sehat dan inklusif.
Sekolah harus dibangun dengan
melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan . Fokus pada pembangunan
sumber daya yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, serta kekuatan
dan aspirasi yang sudah ada. Daripada menanyakan, "ada masalah
apa?' dan "bagaimana memperbaikinya?", lebih baik bertanya
" apa yang telah berhasil dilakukan?
Perubahan positif bisa diciptakan
dari perbincangan sederhana untuk memulai suatu tindakan. Diawali dengan
perubahan pola pikir (mindset) dan sikap positif yang kemudian menjadi upaya
membangun sekolah dengan selalu memprioritaskan suasana yang menyenangkan
dan kepemimpinan lokal sehingga pengembangan dan pembaharuan dapat dilakukan
secara terus menerus.
C.
HUBUNGAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DENGAN
PROSES PEMBELAJARAN MURID
Sumberdaya atau aset yang dimiliki komunitas adalah kunci
dari usaha perbaikan kehidupan. Menurut Green dan Haines (2002)
dalam Aset building and community development, ada 7 aset yang menjadi
modal utama dalam suatu komunitas yaitu modal manusia, modal
sosial, modal fisik, modal lingkungan alam, modal finansial, modal politik
serta modal agama dan budaya.
Dalam pengembangan sekolah, ke tujuh
modal ini digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan
pengembangan minat bakat murid dan berbagai kegiatan sekolah dalam
mewujudkan murid merdeka. Sumberdaya yang dikelola dengan tepat
dapat membantu sekolah untuk mencapai tujuan serta
visi misi yang sudah direncanakan.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus menggunakan pendekatan berbasis aset untuk menggali potensi murid yang berbeda-beda sesuai kodratnya. Alih-alih mengeluhkan kekurangan murid-muridnya, guru harus memandang keberagaman kemampuan murid-muridnya sebagai peluang untuk menumbuhkan bibit-bibit unggul sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Disini terlihat bahwa pengelolaan sumber daya jika dilakukan dengan tepat akan membantu proses pembelajaran murid sehingga kekuatan kodrat murid dapat berkembang dengan maksimal.
KETERKAITAN DENGAN MODUL-MODUL SEBELUMNYA
Ø Modul
1.1 Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara
"Maksud pendidikan itu adalah
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia, maupun anggota masyarakat" (Ki Hadjar Dewantara, 1936,
Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraf 4)
Pernyataan KHD tersebut menjadi
dasar pemikiran bagi guru untuk memahami bahwa tugas pendidik hanyalah "menuntun"
bukan merubah kodrat murid. Setiap anak pada hakekatnya memiliki kekuatan
kodrat (potensi) yang berbeda-beda, Tugas guru adalah mengarahkan
potensi murid tersebut untuk dapat mencapai tujuan belajarnya yakni
kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Seorang pemimpin harus mampu
mengelola salah satu aset yang dimiliki sekolah yaitu modal manusia (guru dan
murid). Pemimpin harus memastikan para gurunya melaksanakan pembelajaran yang
berpihak kepada murid sehingga murid dapat berkembang sesuai kodratnya (kodrat
alam dan kodrat zaman). Dengan demikian maka murid akan dapat memaksimalkan
minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya sebagai bekal mereka dalam menjalani
kehidupannya.
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.( UU
RI No. 20/2003, Sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1,
No.1)
Tujuan pendidikan pada dasarnya
adalah menumbuhkan karakter luhur pada diri murid seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang SISDIKNAS tersebut. Guru berperan membentuk karakter murid
melalui keteladanan dan pembiasaan yang terus menerus. Nilai-nilai
tersebut ditumbuhkan lewat proses & pemaknaan atas pengalaman,
memastikan proses & pemaknaan positif , memelihara emosi &
pikiran positif, sehingga diharapkan nilai-nilai luhur tersebut muncul,
tumbuh dan lestari.
Nilai-nilai positif yang
melekat pada murid, guru dan warga sekolah lainnya merupakan aset (modal)
manusia dalam pengembangan sekolah.
Seorang pemimpin harus mampu
memastikan modal manusia yang dimiliki sekolah utamanya guru agar dapat
menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya seperti mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Dengan diterapkan
nilai-nilai ini maka sekolah akan dapat mewujudkan murid yang memiliki profil
pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak
mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, serta
kreatif.
Ø Modul
1.3 Visi Guru Penggerak
Seorang pemimpin pembelajaran
hendaknya berinisiatif melakukan perubahan yang berbasis
kekuatan/aset/potensi. Perubahan tersebut bisa dilakukan dengan paradigma
inkuiri apresiatif yang percaya bahwa setiap orang memiliki
sisi positif yang bisa diajak berkolaborasi untuk melakukan perubahan positif.
Paradigma tersebut bisa dilakukan dengan tahapan BAGJA.
Pengembangan
visi perubahan di sekolah dapat dimulai dengan
mengembangkan visi pribadi, memetakan kekuatan dalam diri dan potensi murid,
serta merencanakan dan mengelola strategi perubahan. Hal ini sejalan
dengan pendekatan pengelolaan sumber daya berbasis aset.
Ø Modul
1.4 budaya Positif
Tujuan membangun budaya positif
adalah menumbuhkan karakter anak. Tujuan akhir dari disiplin adalah agar anak
memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung
jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain.
Tindakan guru yang tepat yaitu dengan bertanya dan membuat kesepakatan agar
mendorong motivasi intrinsik.
Budaya positif yang diterapkan di
sekolah menjadi aset budaya yang memunculkan lingkungan yang kondusif dalam
mewujudkan murid merdeka.
Ø Modul
2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi
Setiap individu memiliki keunikan,
setiap anak memiliki kekuatan kodratnya masing-masing. Mereka berbeda dari segi
kesiapan belajar, minat dan profil belajarnya. Karena itu diperlukan
pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar individual mereka
yang beragam.
Keberagaman anak dengan minat dan
potensi berbeda tidak boleh dipandang sebagai masalah atau kekurangan sehingga
kita kemudian melabeli mereka dengan dikotomi pintar-bodoh. Karena sesungguhnya
tidak ada murid yang bodoh. Yang ada adalah murid dengan kepandaian yang
berbeda-beda. Keberagaman anak harus dipandang sebagai peluang atau aset untuk
bisa kita kembangkan sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga mereka bisa
mencapai tujuan belajarnya dengan caranya masing-masing sehingga potensi mereka
dapat berkembang maksimal.
Mendesain pengalaman belajar yang
bermakna, menantang, dan relevan bisa menjadi support system untuk
perbedaan individual murid. Beberapa cara yang bisa dilakukan guru diantaranya
adalah :
·
DiferensiasiProduk : Dengan memberikan
kesempatan kepada murid untuk mendemonstrasikan pemahamannya melalui produk
yang berbeda sesuai dengan yang paling disukai dan paling bisa dilakukannya.
·
DiferensiasiProses : Dengan memberikan proses
belajar yang beragam sesuai tahapan kesiapan belajar siswa dan memberikan
bantuan yang berbeda mulai dari scaffolding hingga tutor teman sebaya.
·
Diferensiasi Konten : Strategi
membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah
pengetahuan dan ketrampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.
Ø Modul
2.2 Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional
memungkinkan anak (murid) dan orang dewasa (guru dan warga sekolah
lainnya) memperoleh dan menerapkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap
positif mengenai aspek sosial dan emosional. Dilandasi dengan kesadaran penuh,
melakukan kegiatan yang melatih 5 kompetensi sosial emosianal yang
terdiri atas pengenalan emosi (kesadaran diri), pengelolaan emosi dan fokus (
pengelolaan diri), kesadaran sosial (empati), resiliensi ( ketrampilan sosial),
serta pengambilan keputusan yang bertanggunga jawab. Kesemuanya itu untuk
mencapai kesejahteraan psikologis (wellbeing).
Pengetahuan dan ketrampilan sosial
emosional yang diterapkan oleh guru, siswa dan warga sekolah lainnya merupakan
aset atau sumber daya manusia dalam pengembangan sekolah.
Ø Modul
2.3 Couching
Couching adalah proses kolaborasi
yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis dimana couch
memfasilitasi couchee untuk menggali potensi dan menemukan sendiri solusi dari
situasi yang dihadapinya. Ketrampilan couchee sangat penting diterapkan di
sekolah karena bisa membantu seseorang menemukan kekuatannya dan menggunakannya
untuk menyelesaikan masalah baik dalam hal pembelajaran maupun di luar pembelajaran.
Ketrampilan couchee merupakan modal manusia yang bisa digunakan untuk
pengembangan sekolah dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada murid.
Ø Modul
3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran
Tugas tersulit seorang pemimpin
adalah mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini,
secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi
atau lembaga yang dipimpin, yang tentunya akan berdampak kepada mutu pendidikan
yang didapatkan murid-murid.
Pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab dengan mempertimbangkan 4 pardigma, 3 prinsip dan 9
langkah pengujian terhadap kasus yang memuat unsur dilema etika harus terus
dilatih oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran karena keputusan yang tepat
akan menimbulkan lingkungan yang positif, kondusif aman dan nyaman. Hal
tersebut bisa menjadi modal lingkungan yang disa diberdayakan untuk
melakukan pengembangan sekolah.
E.
PERBEDAAN SEBELUM DAN SETELAH MEMPELAJARI
MODUL 3.2 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Sebelum mempelajari modul 3.2 ini,
saya cenderung memandang murid dan sekolah berdasarkan kekurangan atau masalah
(deficit-based thingking). Misalnya kemapuan dasar (intake) murid di
sekolah saya yang beragam diantaranya minat yang rendah, keterampilan
berkomunikasi yang rendah dan kepercayaan diri yang rendah sehingga
ketika saya merancang pembelajaran bermuatan Higher Order Thingking skill
(HOTS) hanya beberapa orang saja yang aktif dan bisa mempresentasikan hasil
belajarnya, sedangkan yang lainnya cenderung pasif.
Setelah saya mempelajari modul ini,
saya memiliki wawasan dan pengetahuan baru bahwa apa yang saya kira merupakan
kesulitan, masalah atau kelemahan, sesungguhnya adalah tantangan yang harus
saya selesaikan. Saya merubah pola pikir saya untuk fokus menemukan
potensi atau hal-hal positif sebagai modal yang akan saya kembangkan untuk
melakukan pembelajaran yang lebih baik dengan mendesain strategi belajar yang
lebih baik lagi.
F.
RENCANA AKSI
Judul Modul :
Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya
Nama Peserta :
Baiq Herlina, S. Pd (CGP Angkatan 2_ Kab.Lombok Barat)
Judul Aksi Nyata : Agribisnis Sebagai Program Unggulan Sekolah
Latar Belakang
SMA Negeri 2 Gerung merupakan sekolah yang
kurang diminati oleh masyarakat yang disebabkan keberadaannya yang berdampingan
dengan sekolah-sekolah besar yaitu SMAN 1 Gerung dan MAN Lombok Barat. Oleh
karena harus ada usaha untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dari sekolah lain
agar sekolah ini dapat menjadi pilihan dan tujuan dari masyarakat. Berdasarkan Sumber
Daya Manusia yang dimiliki, Warga SMA Negeri 2 terutama siswa sebagian besar
berasal dari keluarga Petani. Oleh karena itu disamping merekasudah memiliki
sedikit pengalaman untuk bertani, mereka memerlukan memerlukan ilmu tambahan
tentang bagaimana cara bertani yang Modern sehingga setelah tamat nanti mereka
bisa menjadi petani yang cerdas. Sedangkan berdasarkan Sumber Daya Alam yang dimiliki SMAN 2 Gerung yaitu memiliki lahan persawahan yang cukup
luas yang dapat digunakan sebagai wahana belajar siswa.
Berdasarkan
analisis sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki SMA Negeri 2
Gerung, maka saya selaku salah satu guru dan Tim Manajement mengusulkan program
tambahan yang akan menjadi program unggulan menuju SMA Plus berupa skill atau
keahlian yang dapat dikembangkan atau dimanfaatkan oleh siswa setelah tamat
nantinya. Adapun salah satu dari program tersebut yaitu Agribisnis.
Tujuan
1.
Mewujudkan
program unggulan sekolah menuju SMA Plus.
2. Mempersiapkan siswa terampil dibidang
pertanian dengan Mengembangkan
kewirausahaan dibidang Agribisnis
Tolak
Ukur
1. Terlaksananya program unggulan sekolah menuju SMA Plus
2. Siswa memiliki keterampilan tambahan dibidang pertanian.
Linimasa Tindakan Yang Akan dilakukan (BAGJA)
1. Buat Pertanyaan
Bagaimana caranya agar siswa memiliki
keterampilan lebih terutama dibidang pertanian agar dapat menarik perhatian
masyarakat sehingga SMA Negeri 2 Gerung Menjadi sekolah pilihan dan tujuan.
2. Ambil Pelajaran
·
Siswa
sudah terbiasa dengan kegiatan bertani
·
Sekolah
merupakan lahan pertanian
3. Gali Mimpi
·
Siswa
memiliki keterampilan unggulan/lebih yang tidakdimiliki sekolah lain.
·
Sekolah
menjadi sekolah pilihan masyarakat
4. Jabarkan Rencana
Program unggulan berupa program agribisnis
merupakan program Prakarya dan kewirausahaan. Prakarya dan kewirausahaan yang
dikembangkan disekolah kami difokuskan pada Pengembangan Agribisnis. Kegiatan
ini akan dilaksanakan setiap hari sabtu bersamaan dengan kegiatan sabtu budaya
(budaya gotong royong). Dalam pelaksanaannya, guru Prakarya dan kewirausahaan
membengtuk tim bersama guru dan pegawai lainnya untuk mendampingi siswa dalam
mengembangkan agribisnis di sekolah.
5. Atur eksekusi
·
Penanggung
jawab dan pengarah adalah guru Prakarya dan Kewirausahaan
·
Semua
siswa terlibat secara aktif dan bertanggung jawab.
Dukungan Yang dibutuhkan:
·
Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB
·
Kepala
Sekolah
·
Guru
·
Pegawai
·
Murid
·
WaliMurid/Komite/masyarakat
sekitar



Komentar
Posting Komentar